SYAIR KEHIDUPAN ALAM YANG MENGURAS HATI DAN MEMPERTARUHKAN NYAWA (LIANG 2)

Rabu, 10 Oktober 2012



Perjalanan ini dimulai dari liang 2 tempat BASECAMP hari ke-2 menuju puncak Binaiya, perjalanan ini sangat menguras hati dan tenaga. Mental kami semua di pertaruhkan demi mencapai semua keinginan dan cita-cita kami (MATEPALA).

Pagi yang dingin dan mencekam dimulai dengan perjalanan yang sangat menantang, langit begitu cerah, udara yang sejuk menyelimuti tubuh kami tapi terkadang angin berhembus menusuk tulang ini sampai seakan-akan tulang ini rasanya rapuh.  Pagi itu kami semua bergegas membereskan benda-benda yang harus dibersihkan, sampah yang berserakan dikumpulkan dan di bakar agar lingkungan sekitar BASECAMP terlihat bersih kembali seperti awal kami datang. Setelah semaunya telah selesai kami mulai melangkahkan kaki ini ke tempat tujuan selanjutnya, kami bergegas dengan penuh suka cita dan semangat yang tinggi.

Jalan yang kami lalui cukup sulit karena terjal dan terdapat bebatuan, jalan yang kami lalui ini mulai menanjak seperti melewati tebing yang curam, tempat ini sungguh sangat menguras hati kami terutama menguras hatiku, karena jalurnya yang begitu menyeramkan. Aku mengatakan hal ini karena tebing yang begitu curam dan apabila salah melangkahkan kaki ini ataupun salah meletakkan kaki maka habislah sudah sebab kalau sampai jatuh ??? “OH MY GOD” mungkin saja nyawa tidak akan tertolong, itu sampai mengapa aku mengatakan jalur yang sangat menyeramkan.

Ketika perjalanan kami mulai menanjak dan menerjal sampailah pada moment yang “Menguras Hati”, pada saat sahabat ku (Suneo è nama lapangannya) menaiki jalur yang begitu terjal, dia berusaha sekuat tenaga untuk dapat melewatinya, tapi sayangnya itu tidak terjadi. Tragedy yang sangat mengejutkanpun datang, tiba-tiba dia terpeleset dan hampir tersungkur dan itu membuatku menjadi panic dan perasaanku menjadi takaruan, perasaan ini tercampur menjadi satu (sedih, bingung, takut, panic dan lainnya). Tanganku langsung merespon seketika memegang belakangnya agar dia tidak jatuh ke jurang yang sangat dalam, hatiku berkata “Ya ALLAH lindungilah sahabatku dan kami semua , lancarkanlah perjalanan yang penuh dengan keikhlasan ini Ya ALLAH. Aku tau hanya Engkaulah tempat kami memohon perlindungan”. Seketika teriakanpun keluar dari mulut yang terasa kaku ini “SEEENNNIIIOOOORRRRR, tolong b tamang jua eeeee, dia su mau jatuh itu L L L baru dia pung tangan su mati rasa tolong jua dia juaa eeee….” Keadaan ini semakin mencekam, Senior Ami berkata “samua merapat ke dinding (diapun melewati mereka semua dan menaiki tanjakan yang terjal itu)”, Senior Ami melanjutkan pembicaraanya “Putra capat lapas tas lalu tarik dia, hervi ambil suneo tas lalu ovor ka atas” Senior Putra dan Senior Hervi pun bergegas untuk menolongnya. Aku sangat terharu dan meneteskan air mata ini karena begit khawatirnya diriku kepada sahabatku yang sudah kuanggap saudaraku sendiri.

Setelah ketegangan ini semua berakhir kami melanjutkan lagi perjalanan yang tadinya mencekam dan penuh dengan keharuan. Di situ aku mendapat pelajaran bahwa kita tidak sendiri kita selalu bersama dan saling membantu satu dengan yang lainnya.
Kami tempuh hari itu dengan lebih berhat ‑hati dan cubaan banyak yang menghadang kami mencoba    menabahkan hati ini untuk tetap semangat, untuk berjuang Demi sebuah hadiah sinar terang.

Terlinats secercah harapan dan doa “Ya ALLAH dalam perjalanan ini aku bermunajat kepada-Mu, tolonglah Hamba-hamba-Mu ini, lindungilah kami, jagalah kami dimana pun dan kemanapun kami melangkahkan kaki ini. Aku takkan meminta banyak dari-Mu kali Ini Ya ALLAH aku hanya ingin perlindungan darimu karena sesungguhnya hanya Engkau tempat kami berlindung dan berteduh dari segala macam cobaan yang datang kepada kami Ya ALLAH Ya TUHANku.”

Kemudian perjalanan dilanjutkan kembali menuju tempat untuk sedikit saja mengganjal perut ini dari rasa lapar dan dahaga yang mulai menguasai pikiran kami, kami pun tiba di tempat makan siang yakni liang 4, perjalanan tadi sungguh sangat melelahkan dan menguras hati tapi ditempat ini aku terpisah dengan sahabat-sahabatku. Aku berjalan sendiri dengan senior-seniorku  sedangkan merekapun memilih jalan mereka sendiri. Setelah makan siang selesai kami melanjutkan lagi perjalanan kami, kami diguyur hujan yang sangat deras, kami sudah tidak melangkahkan kaki dengan perlahan lagi tapi kami sudah mulai berlagi agar sampai dengan cepat di BASECAMP kami berikutnya (Desa Manusela). Tibalah kami Desa Manusela, Desa yang penuh dengan keindahan, keramah-tamahan penduduk desa yang begitu baik, rumah-rumah yang berjejeran dengan rapid an rerumputan yang sangat indah dipandang mata ini seakan lelah berganti dengan rasa damai dan tenang yang tiada taranya.

Kami bergegas untuk menuju rumah yang telah di beritahukan, senior kami menyuruh kami untuk segera bergegas untuk membersihkan badan, tetapi sebelumnya kami melakukan pemanasan, taulah……. J . setelah kami sudah membersihkan diri kami, kami di atur untuk mengerjakan tugas kami, hari mulai gelap dan kami belum juga tidur, aku seketika duduk diam dan sambil termenung membayangkan peristiwa tadi yang hampir saja merenggut nyawa sahabatku, tapi seketika lamunanku di buyarkan oleh panggilan seniorku yang menyuruh untuk segera tidur karena perjalanan yang masih panjang menanti.

Ku tutup mata ini sambil diiringi dengan doa Kepada Tuhan Yangg Maha Kuasa.

BADAI BINAIYA selalu menjadi keluargaku dan tentunya MATEPALA juga…

By : Dian Goliath (MTP/M.0211002-Badai Binaiya)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © -2012 Unique All Rights Reserved | Template Design by Favorite Blogger Templates | Blogger Tips and Tricks