Perjalanan ini dimulai dari liang 2 tempat BASECAMP hari ke-2
menuju puncak Binaiya, perjalanan ini sangat menguras hati dan tenaga. Mental
kami semua di pertaruhkan demi mencapai semua keinginan dan cita-cita kami
(MATEPALA).
Pagi yang dingin dan mencekam dimulai dengan perjalanan yang
sangat menantang, langit begitu cerah, udara yang sejuk menyelimuti tubuh kami
tapi terkadang angin berhembus menusuk tulang ini sampai seakan-akan tulang ini
rasanya rapuh. Pagi itu kami semua
bergegas membereskan benda-benda yang harus dibersihkan, sampah yang berserakan
dikumpulkan dan di bakar agar lingkungan sekitar BASECAMP terlihat bersih
kembali seperti awal kami datang. Setelah semaunya telah selesai kami mulai
melangkahkan kaki ini ke tempat tujuan selanjutnya, kami bergegas dengan penuh
suka cita dan semangat yang tinggi.
Jalan yang kami lalui cukup sulit karena terjal dan terdapat
bebatuan, jalan yang kami lalui ini mulai menanjak seperti melewati tebing yang
curam, tempat ini sungguh sangat menguras hati kami terutama menguras hatiku,
karena jalurnya yang begitu menyeramkan. Aku mengatakan hal ini karena tebing
yang begitu curam dan apabila salah melangkahkan kaki ini ataupun salah
meletakkan kaki maka habislah sudah sebab kalau sampai jatuh ??? “OH MY GOD”
mungkin saja nyawa tidak akan tertolong, itu sampai mengapa aku mengatakan
jalur yang sangat menyeramkan.
Ketika perjalanan kami mulai menanjak dan menerjal sampailah
pada moment yang “Menguras Hati”, pada saat sahabat ku (Suneo è nama lapangannya) menaiki
jalur yang begitu terjal, dia berusaha sekuat tenaga untuk dapat melewatinya,
tapi sayangnya itu tidak terjadi. Tragedy yang sangat mengejutkanpun datang,
tiba-tiba dia terpeleset dan hampir tersungkur dan itu membuatku menjadi panic
dan perasaanku menjadi takaruan, perasaan ini tercampur menjadi satu (sedih, bingung,
takut, panic dan lainnya). Tanganku langsung merespon seketika memegang
belakangnya agar dia tidak jatuh ke jurang yang sangat dalam, hatiku berkata
“Ya ALLAH lindungilah sahabatku dan kami semua , lancarkanlah perjalanan yang
penuh dengan keikhlasan ini Ya ALLAH. Aku tau hanya Engkaulah tempat kami
memohon perlindungan”. Seketika teriakanpun keluar dari mulut yang terasa kaku
ini “SEEENNNIIIOOOORRRRR, tolong b tamang jua eeeee, dia su mau jatuh itu L L L baru dia pung tangan su
mati rasa tolong jua dia juaa eeee….” Keadaan ini semakin mencekam, Senior Ami
berkata “samua merapat ke dinding (diapun melewati mereka semua dan menaiki
tanjakan yang terjal itu)”, Senior Ami melanjutkan pembicaraanya “Putra capat
lapas tas lalu tarik dia, hervi ambil suneo tas lalu ovor ka atas” Senior Putra
dan Senior Hervi pun bergegas untuk menolongnya. Aku sangat terharu dan
meneteskan air mata ini karena begit khawatirnya diriku kepada sahabatku yang
sudah kuanggap saudaraku sendiri.
Setelah ketegangan ini semua berakhir kami melanjutkan lagi
perjalanan yang tadinya mencekam dan penuh dengan keharuan. Di situ aku
mendapat pelajaran bahwa kita tidak sendiri kita selalu bersama dan saling membantu
satu dengan yang lainnya.
Kami tempuh hari itu dengan lebih berhat ‑hati dan cubaan banyak yang menghadang kami mencoba menabahkan hati ini untuk
tetap semangat, untuk berjuang Demi sebuah hadiah sinar terang.
Terlinats secercah harapan dan doa “Ya ALLAH dalam perjalanan
ini aku bermunajat kepada-Mu, tolonglah Hamba-hamba-Mu ini, lindungilah kami,
jagalah kami dimana pun dan kemanapun kami melangkahkan kaki ini. Aku takkan
meminta banyak dari-Mu kali Ini Ya ALLAH aku hanya ingin perlindungan darimu
karena sesungguhnya hanya Engkau tempat kami berlindung dan berteduh dari segala
macam cobaan yang datang kepada kami Ya ALLAH Ya TUHANku.”
Kemudian perjalanan dilanjutkan kembali menuju tempat untuk
sedikit saja mengganjal perut ini dari rasa lapar dan dahaga yang mulai
menguasai pikiran kami, kami pun tiba di tempat makan siang yakni liang 4,
perjalanan tadi sungguh sangat melelahkan dan menguras hati tapi ditempat ini
aku terpisah dengan sahabat-sahabatku. Aku berjalan sendiri dengan
senior-seniorku sedangkan merekapun
memilih jalan mereka sendiri. Setelah makan siang selesai kami melanjutkan lagi
perjalanan kami, kami diguyur hujan yang sangat deras, kami sudah tidak
melangkahkan kaki dengan perlahan lagi tapi kami sudah mulai berlagi agar
sampai dengan cepat di BASECAMP kami berikutnya (Desa Manusela). Tibalah kami
Desa Manusela, Desa yang penuh dengan keindahan, keramah-tamahan penduduk desa
yang begitu baik, rumah-rumah yang berjejeran dengan rapid an rerumputan yang
sangat indah dipandang mata ini seakan lelah berganti dengan rasa damai dan
tenang yang tiada taranya.
Kami bergegas untuk menuju rumah yang telah di beritahukan,
senior kami menyuruh kami untuk segera bergegas untuk membersihkan badan,
tetapi sebelumnya kami melakukan pemanasan, taulah……. J . setelah kami sudah
membersihkan diri kami, kami di atur untuk mengerjakan tugas kami, hari mulai
gelap dan kami belum juga tidur, aku seketika duduk diam dan sambil termenung
membayangkan peristiwa tadi yang hampir saja merenggut nyawa sahabatku, tapi
seketika lamunanku di buyarkan oleh panggilan seniorku yang menyuruh untuk segera
tidur karena perjalanan yang masih panjang menanti.
Ku tutup mata ini sambil
diiringi dengan doa Kepada Tuhan Yangg Maha Kuasa.
BADAI BINAIYA selalu menjadi keluargaku dan tentunya MATEPALA
juga…
By : Dian Goliath (MTP/M.0211002-Badai Binaiya)






0 komentar:
Posting Komentar